Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai tulisan serius, tapi jangan serius amat deng nanti sakit hati, tentang isu saat ini yaitu toleransi beragama dalam sudut pandang psikologi. Tentunya sudah tidak asing lagi dengan kata di atas, apalagi isu mengenai radikalisme, ektrimisme, komunisme bahkan sampai jombloisme yang sudah menjadi sarapan setiap hari. Terlebih sobat ambyar yang tiap harinya suram menatap masa depan yang penuh ketidakpastian darinya. Benerkan? Karena profesi semua kalangan baik dari tingkat pendidikan apapun, ujungnya bakal jadi netizen hehe. Yuk mending lihat bagaimana toleransi beragama dalam psikologi di sini.

Baca juga: Bagaimana Psikologi Islam Memandang Manusia? Mari Mengenal Psikologi Islam Lebih Jauh

Yuk bagi kamu yang memiliki syaraf penasaran yang banyak bisa dibaca artikel Isu Toleransi Beragama Meningkat, Bagaimana sih Psikologi Memandang Toleransi Beragama? Yuk Simak!! Pada artikel ini akan diberikan pandangan psikologi tentang bagaimana individu bertoleransi terhadap perbedaan dan keberagaman. Jadi toleransi beragama dalam psikologi akan dibahas disini ya.

Toleransi Beragama dalam Sudut Pandang Psikologi

Mengenal konsep toleransi beragama dalam psikologi, toleransi beragama, isu toleransi di Indonesia, toleransi beragama penting, psikologi dalam toleransi
Toleransi dalam keberagaman. Source: Pexels.com

Konsep toleransi beragama bukan merupakan hal yang baru, baik bagi umat Buddha, Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan lainnya. Terutama konsep toleransi dalam Islam dikenal dengan istilah tasamuh. Artinya sama saja yaitu toleransi, tetapi istilah dalam bahasa Arab. Untuk masalah dalil-dalil seperti dalam Al-Qur`an, Hadits atau pun kitab ulama terdahulu pasti banyak, dan itu merupakan kajian dalam sudut agama, jika dalam Islam.

Baca juga: Terapi Gestalt untuk Membangun Kesadaran Lingkungan Hidup Masa Kini

Untuk ajaran lain seperti Taotisme, Konfusian, Buddha atau kitab agama lainnya, tentunya memiliki konsep toleransi juga. Ini dikarenakan toleransi memiliki konsep cinta, dan setiap agama pastinya memiliki konsep tentang menyebarkan cinta.

Oke, kita tidak akan membahas konsep tersebut dalam sudut pandang agama tetapi sesuai judul yaitu dari konsep toleransi psikologi.

Konsep Toleransi

Mengenal konsep toleransi beragama dalam psikologi, toleransi beragama, isu toleransi di Indonesia, toleransi beragama penting, psikologi dalam toleransi
Bisa menerima orang lain yang berbeda adalah kuncinya. Source: Pexels.com

Kajian pertama yang dilakukan dengan toleransi yaitu oleh orang bernama Gordon W. Allport tahun 1954. Menurutnya, orang yang memiliki kepribadian toleran mereka yang bisa bersikap hangat, menyenangkan dan ramah terhadap orang lain baik yang berbeda dari sisi ras, agama, ataupun atribut perbedaan lainnya, jadi tidak ramah ke doi saja ya wkwk.

Sikap ramah dan hangat yang dimaksud terutama dalam beragama yaitu bisa menerima ekspresi beragama dan nilai keagamaannya yang berbeda tanpa dibatasi satu sama lainnya. Selain itu, kamu harus menerima mereka juga ke dalam pertemanan sosial dan saling akrab satu sama lainnya.

Baca juga: Mengukur Tingkat Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Diri Sendiri dengan Teori Jahoda

Selain bersikap ramah atau humble, kamu juga harus menghilangkan prasangka terhadap mereka. Namun, konsep lainnya tidak menghubungkan dengan menghilangkan prasangka, tapi lebih kepada menerima perbedaan tanpa syarat. Setelah itu tujuannya untuk mereduksi perilaku diskriminatif atau merugikan pihak lain. Hasilnya lagi yaitu menjalin kehidupan yang inklusif merupakan wujud dari sikap toleransi di atas.

Dampak dari kehidupan yang inklusif yaitu suatu kelompok tidak mempersepsika diri sebagai kelompok lebih tinggi daripada kelompok lainnya. Selain itu, fanatisme terhadap kelompok sendiri atau bahasa lainnya ketika merasa bagian dari kelompok tertenut bisa dikurangi kefanatikannya.

Bagaimana Kita Seharusnya Untuk Menjadi Pribadi yang Toleran?

Mengenal konsep toleransi beragama dalam psikologi, toleransi beragama, isu toleransi di Indonesia, toleransi beragama penting, psikologi dalam toleransi
Kehidupan yang shining-shining akan tercapai jika toleran. Source: Pexels.com

Kalau masih belum jelas, kita lihat secara operasional atau masuk ke ranah lapangan dalam konsep ini.

Melihat individu toleran, kamu bisa membatasinya dengan tiga dimensi menurut Witenberg yaitu kesetaraan, empati dan reasonableness, artinya cari sendiri deh wkwk.

Pertama, dalam kesetaraan atau fairness, kamu harus mampu memperlakukan orang yang berbeda agama dengan kamu setara dengan orang seumat dengan kamu. Sebagai contoh, kamu melumrahkan orang membangun masjid di kota kamu berarti harus membiarkan umat agama lain membangun tempat ibadahnya. Contoh lainnya, kamu harus sama baiknya ketika menolang umat lain ketika dilanda kesusahan atau juga dilanda bencana.

Dasar contoh perilaku lainnya yaitu tidak merasadiri lebih tinggi atau lebih benar dari orang lain. Pikiran yang ditanamkan yaitu merasa sesama manusia yang saling berbagi tempat tinggal di bumi ini. Sehingga akan menurunkan ego untuk merusak, menumbuhkan kerjasama dan saling berbagi satu sama lain.

Baca juga: Menumbuhkan Rasa Toleransi yang Dimulai dari Diri dan Kognisi di Tahun Politik

Kedua, dengan dimensi empati, kamu harus mampu merasakan apa yang dipikirkan, dirasakan bahkan yang dialami oleh orang yang berbeda secara agama dengan kamu. Mengerti cara pandang orang lain, memahami kesedihan dan berusaha untuk berteman dengannya akan menumbuhkan sikap prososial dan mengeratkan hubungan atau ikatan sesama.

Ketika sudah memiliki perasaan dan sikap  seperti di atas, kamu akan mencoba untuk mengurangi pikiran negatif terhadap orang lain. Kamu juga akan tidak menyetujui perlakuan buruk terhadap orang lain, dan akan mencoba membela orang tersebut dengan apa yang dimiliki.

Baca juga: Bahagia itu Dekat di Sekitar Kita, Sudahkah Kita Bahagia?

Terakhir yaitu reasonableness. Dalam ranah ini, kamu harus mampu menilai orang lain dengan alasan yang kuat. Artinya, ketika kamu ingin menumbuhkan perasangka negatif, kamu harus mampu membuktikan apa yang diyakini tersebut benar. Selain itu, kamu tidak ikut-ikutan ketika ada prasangka negatif terhadap orang lain. Kamu harus bisa mengcrosscheck terhadap sumber aslinya.

Jadi gimana sudah cukup tergambarkan belum toleransi dalam psikologi?

Prinsip-Prinsip Toleransi Beragama

Dalam menjalankan toleransi beragama diperlukan beberapa prinsip yang perlu diperhatikan diantaranya menurut Mulyono (2017) yaitu kebebasan beragama, menghormati eksistensi agama lain dan agree in disagreement.

Faktor yang Mempengarui Toleransi Beragama

Faktor-faktor yang membuat individu menjadi toleran yaitu dipengaruhi oleh beberapa hal berikut ini, masa kecil, pendidikan, kemampuan berempati, self-insight, personal values, philosophy of life, intellectual humility, kepribadian dan orientasi beragama. Untuk penjelasan ini akan dilanjutkan dalam artikel berikutnya.

Daftar Pustaka

  • Allport, G. W. (1954). The Nature of Prejudice. Massachusetts: Wesley Publishing Company.
  • Allport, G. W., & Ross, J. M. (1967). Personal Religious Orientation and Prejudice. Journal of Personality and Social Psychology, 5(4), 432–443.
  • Mulyono, R. (2017). Pengaruh Keterlibatan Orang Tua, Regulasi Diri dan Agresivitas Terhadap Perilaku Toleran Anak. Disertasi Universitas Negeri Jakarta.
  • Witenberg, R. T. (2007). The moral dimension of children ’ s and adolescents ’ conceptualisation of tolerance to human diversity. (January 2015), 37–41. https://doi.org/10.1080/03057240701688002

Penutup

Mengenal konsep toleransi beragama dalam psikologi, toleransi beragama, isu toleransi di Indonesia, toleransi beragama penting, psikologi dalam toleransi
Hasilnya rakyat hidup tentram dan nyaman serta harmonis. Source: Pexels.com

Oke untuk kali ini hanya sampai disini saja bahasan mengenai toleransi beragama. Hanya dalam ranah konsep saja untuk kali ini. Untuk penjelasan faktor lainnya bagaimana bisa menjadi individu yang toleran dalam artikel berikutnya.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih toleran terhadap perbedaan. Dengan menjadi individu yang toleran tentunya akan membuat kehidupan yang harmonis. Pembangunan dan pemberdayaan Indonesia ketika orangnya berdamai satu sama lain akan lebih difokuskan.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut: admin@bumipsikologi.com