toxic productivity di pandemi dalam psikologi, fenomena toxic productivity dalam psikologi, contoh fenomena toxic productivity, cara terhindar dari toxic productivity, ciri orang toxic productivity.

Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai penjelasan toxic productivity di pandemi dalam psikologi. Kamu sering merasa insecure ga sih saat temen-temen atau lingkungan sekitar kamu memamerkan aktivitas volunteernya? Atau iri pada orang yang menyelesaikan tugas dan pekerjaannya semaleman bak Sangkuriang? Sementara kamu yang hanya bisa mengasihi diri sambil menatap layar handphone sambil rebahan. Gimana rasanya? Apalagi masa pandemi ini, banyak sekali aktivitas yang terganggu atau rencana-rencana indah kamu yang terpaksa harus say good bye.

Baca juga: Kelelahan Bekerja, Pilih Karoshi atau Deadwood? – Fenomena Burnout dalam Psikologi

Well, apapun yang kamu rasakan ketika dalam kondisi itu, santuy aja. Karena rebahan juga produktif untuk menjaga tubuh dari kelelahan hehe. Ga usah membandingkan diri kamu dengan yang lain, fokus saja dengan apa yang bisa kamu lakukan. Siapa tahu orang lain itu produktif, tapi ternyata toxic productivity, kan sayang, iya sayang sekali. Baca saja deh artikel toxic productivity di pandemi dalam psikologi di sini.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Salahkah Saya Rebahan? – Psikologi, Pandemi dan Toxic Productivity sampai habis tak bersisa ya karena toxic productivity di pandemi dalam psikologi sangat penting!

Salahkah Saya Rebahan? – Psikologi, Pandemi dan Toxic Productivity

Sebagai seseorang yang sangat menyukai rebahan, aku suka insecure ketika melihat media sosial. Memang benar kata pak Dede, media sosial itu tempatnya pamer. Pamer apa saja bisa, pamer kemewahan, pamer kecakepan, sampai yang paling bikin aku insecure pamer kesibukan. Pandemi kayak gini kok malah bikin orang-orang jadi produktif banget ya? Agenda rapat online, bikin podcast berbasis ilmu pengetahuan, membangun usaha makanan, magang di perusahaan, hingga merawat tumbuhan.

Entah kenapa pandemi ini menuntut setiap orang untuk menjadi produktif. Sepertinya memang tidak banyak manusia yang bisa bertahan dengan kegabutan. Setiap detik kehidupan itu harus ada saja hal yang dikerjakan, seolah berlomba untuk menjadi yang paling produktif di tengah pandemi ini.

Dulu pernah ada yang bilang “waktu lo lagi tidur, gue udah bangun, kerja. Sekarang waktu lo lagi kerja, gue udah tinggal menikmati kesuksesan gue”. Kalimat ini seolah terpatri di pikiran semua orang bahwa terenggutnya waktu tidur itu tak masalah selagi mencapai masa depan yang gemilang. Bahwa tujuan impian kita hanya akan datang dengan jika kerja lembur bagai kuda.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan menjadi produktif. Tapi kok ya lama kelamaan, produktif ini malah jadi obsesi setiap orang. Pokoknya kita harus produktif. Semua kesibukan yang kita lakukan sekalipun menyakiti tubuh kita sendiri, tetap dikerjakan dengan berlindung dibalik kata produktif. Obsesi seseorang untuk menjadi produktif melahirkan satu kondisi yang disebut dengan toxic productivity.

Apa itu toxic productivity?

Toxic productivity ini merupakan suatu keadaan dimana seseorang berada pada spektrum produktivitas yang tidak sehat. Produktivitas merupakan sebuah spektrum, di titik tengah adalah produktivitas yang sehat, di sebelah kirinya adalah orang yang tidak produktif karena kelelahan alias burn out, di sebelah kanannya adalah orang yang tidak produktif tapi sangat sibuk sampai tidak sadar tubuhnya butuh istirahat. Keduanya sama, sama-sama tidak menghasilkan produktivitas yang optimal. Dari kedua jenis toxic productivity tersebut kita akan membahas orang yang berada di spektrum sebelah kanan.

Toxic productivity ini berhubungan dengan workaholic dan hustle culture. Workaholic adalah orang-orang yang demen banget kerja. sedangkan hustle culture adalah suatu budaya yangmana seseorang mesti bekerja keras tak kenal lelah untuk mencapai tujuannya. Orang yang sangat kecanduan untuk kerja terutama ketika berada dalam lingkungan yang memiliki budaya untuk kerja lebih dalam mencapai tujuan, mereka akan sangat rentan terkena toxic productivity. Penyebabnya mereka hanya tau tentang kerja keras tanpa pernah sekalipun memikirkan dirinya itu sanggup atau tidak.

Toxic productivity ini tidaklah sama dengan kerja keras. Kita seringkali masih belum bisa memaknai apa itu kerja keras yang sebenarnya. Kerja keras bukan tentang menuntut usaha maksimal, melainkan memaksa usaha yang optimal. Produktif itu kan berkaitan dengan hubungan antara usaha dengan hasil. Kalau usaha melulu tapi engga ada hasilnya itu kan tidak bisa dikatakan produktif. Jadi sesibuk apapun kamu, kalau tidak menghasilkan apapun ya bukan produktif namanya.

Kenapa kita bisa terjebak dalam toxic productivity?

toxic productivity di pandemi dalam psikologi, fenomena toxic productivity dalam psikologi, contoh fenomena toxic productivity, cara terhindar dari toxic productivity, ciri orang toxic productivity.
Bumi Psikologi – Selaw Aja Dulu. Source: unsplash

Orang yang terperangkap dalam toxic productivity selalu terobsesi untuk menjadi produktif. Orang ini cenderung sering merasa bersalah ketika tidak melakukan apa-apa. Merasa bersalah tuh saat berbuat jahat ke orang lain, masa merasa bersalah saat tidak ngapa-ngapain. Perasaan bersalah ini memaksa kita untuk selalu sibuk, termasuk di waktu yang seharusnya untuk istirahat.

Kita malah suka banget merasa paling hebat kalau istirahat  kita sedikit. Seperti saat kalian curhat ke temen kalian kalau baru tidur jam 3 pagi. Lantas, temen kalian nyautin kalau dia baru tidur 2 jam. Teman kalian yang lain tak mau kalah bilang “Masih mending, lah gue belum tidur sama sekali”. Padahal kan tidak ada bagian yang keren dari tidak tidur seharian penuh.

Istirahat itu kan memang kebutuhan setiap orang. Untuk mencapai masa depan yang kita impikan bukan berarti kita tidak memperhatikan waktu kalian untuk rebahan. Seakan kita lupa kalau tubuh kita juga punya batasannya. Saat sampai pada batas tersebut, kita butuh waktu untuk me-charge energi kita.

Kalian pernah ga sih ketemu temen kalian yang ngeluh melulu ngerjain skripsi. Pas kalian suruh istirahat dulu, dia tidak mau dengan dalih skripsi mesti selesai. Orang kayak gini nih yang terperangkap dalam toxic productivity. Disuruh ngerjain tapi ngeluh melulu, giliran disuruh istirahat malah tidak mau. Padahal, semua orang juga tahu deh bahwa skripsi itu mesti selesai, tapi kan istirahat sebentar juga tidak ada salahnya~

Apakah kalian salah satu yang mengalami toxic productivity?

Kalian-kalian yang suka merasa bersalah saat tidak melakukan apa-apa bisa mengalami toxic productivity.  Terdapat tiga ciri yang menandakan kalian sedang mengalami hal tersebut. Mari kita lihat apakah kalian mengalaminya~

Pertama, kita suka banget menerapkan standar yang tidak realistis. Layaknya Roro Jongrang kita mengerjakan tugas yang idealnya waktu pengerjaannya cukup lama, tapi lu selesaikan dalam waktu satu malam. Kayak dalam sehari kalian merasa bisa ngerjain bedah jurnal kuliah, jadi narasumber webinar, nyelesain LPJ kegiatan organisasi, kerja kelompok bikin makalah dan PPT, sekaligus rapat organisasi. Padahal semua itu kan mustahil untuk dilakukan dalam waktu satu malam. Sangkuriang aja nyerah, lah anda siapa?

Kedua, kita selalu bekerja sampai tidak sadar dengan kondisi kesehatan kita. Kerja, kerja, kerja, tiba-tiba tipes. Terus juga kesibukan kita bikin kita menjauh dengan orang-orang terdekat yang tidak termasuk ke dalam lingkungan produktif kita. Rapat sampai malam, paginya tidak hadir di acara ulang tahun adik kita. Rapat, rapat, rapat eh pacar malah minta putus, mantap.

Ketiga, ketika kita merasa tidak nyaman ketika mau beristirahat. Lagi rebahan bentaran eh kepikiran deadline tugas. Nongkrong bareng temen, malah ngomongin organisasi. Liburan ke pantai, terus malah mikirin proposal kegiatan yang belum selesai. Waktu istirahat yang harusnya lu gunakan untuk santai malah terganggu karena merasa istirahat mengganggu produktivitas.

Jadi, kalau kalian merasa bersalah ketika rebahan, mengerjakan tugas yang banyak dalam satu malam, mengurus organisasi tiba-tiba pacar mutusin lu, dan saat beristirahat tidak bisa karena kepikiran kesibukan, selamat anda telah masuk ke dalam spektrum toxic productivity.

Lantas bagaimana agar kita tidak terjebak dalam toxic productivity?

Tidak ada salahnya menjadi produktif, dan tidak ada salahnya rebahan. Bukan soal siapa yang lebih produktif atau tentang siapa yang lebih sering rebahan dibanding yang lain. Seseorang yang produktif juga butuh rebahan untuk tetap terus menjaga produktivitasnya. Seseorang, yang suka rebahan juga butuh produktif untuk mengaktualisasikan dirinya.

Agar kita semua berada pada produktivitas yang sehat, penting untuk berpikir ke dalam diri kita sendiri. Seperti memikirkan apa alasan kita melakukan semua kesibukan, untuk apa kita berjuang, dan seberapa layak hasil yang didapatkan dari usaha yang dilakukan. Serta berpikir tentang cara kerja seperti apa yang cocok untuk diri kita.

Jangan terlalu sering membandingkan diri secara tidak realistis, dan cobalah untuk mengurangi kritik yang berlebihan terhadap diri sendiri. Pikirkan pula bagaimana cara kita mengisi ulang energi yang keluar selama ini. Rebahan mungkin salah satu pilihan untuk mengisi ulang energi, sebab produktif dan rebahan merupakan satu kesatuan, layaknya kepribadian manusia yang saling melengkapi untuk menciptakan individu yang utuh.

Bacaan lanjutan: Toxic Productivity

Penutup

Oke untuk penjelasan fenomena toxic productivity dalam psikologi cukup sampai di sini saja. Ya jangan lupakan rebahan, karena sejauh apapun melangkah ujungnya bakal rebahan. Coba pikirkan kembali ketika kamu merasa sibuk dengan beragam hal, apa kesibukan itu bukan sebuah toxic atau bukan. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: fenomena toxic productivity dalam psikologi, contoh fenomena toxic productivity, cara terhindar dari toxic productivity, ciri orang toxic productivity.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

%d blogger menyukai ini: