Pendahuluan

Kali ini Bumi Psikologi akan memuat artikel mengenai self serving bias. Ketika kamu sudah dinilai menjadi orang yang kompeten dalam suatu hal, tapi kamu kedapatan mengalami kesalahan atau kegagalan, bagaimana reaksi kamu? Ketika kamu mendapatkan kegagalan atau ketidaknyamanan diri secara emosional dan berusaha menyalahkan faktor luar atau ulah orang atau lingkungan tetapi ketika mendapatk kesuksesan menilai itu karena diri, maka kamu terkena self serving bias.

Baca juga: Penanganan Hukum Bagi Pelaku Pidana dengan Gangguan Retardasi Mental – Pengantar Psikologi Forensik

Orang yang rentan kemungkinannya tinggi mengalami self serving bias seperti orang yang dinilai pintar, cerdik, influencer, artis, APARAT, dsb. Biasanya self serving bias rentan sekali dialami oleh mereka ketika mendapatkan kegagalan. Baca saja artikel self serving bias lengkapnya kuy.

Yuk langsung saja baca artikel dengan judul lengkapnya Mending Nyalahin Orang Lain daripada Nyadar Diri – Self Serving Bias sampai tuntas ya!

Mending Nyalahin Orang Lain daripada Nyadar Diri – Self Serving Bias

Self Serving Bias

self-serving bias, apa itu self-serving bias, self-serving bias dalam psikologi, mengatasi self-serving bias
Bumi Psikologi – Nyalahin orang aja deh. Sumber: Pixabay.com

Sebagai manusia yang merasakan hidup setiap hari, persinggungan dengan orang lain merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan. Kecuali kamu seorang NEET atau anti sosial sih ga bakal ketemu orang lain selain dalam rumah, tapi normalnya pasti jumpa manusia lain. Apalagi di zaman sekarang ini, setiap orang difasilitasi media sosial yang diperuntukan untuk saling bersua meski tidak bertatap muka. Oleh sebabnya, waktu, jarak dan orang yang ditemui bisa dengan leluasa bebas ditentukan sendiri.

Misalkan kamu ingin bertemu dengan doi yang jauh di pulau seberang, kamu tinggal kunjungi akunnya saat itu juga, tapi cuman stalking doang tanpa dihiraukan wkwk. Atau kamu tertarik pada suatu topik, kamu tinggal mencarinya tanpa harus menunggu lama, tinggal klik klik klik layar device kamu penuh dengan apa yang kamu cari. Tapi kalau kamu tidak mendapatkan apa yang kamu cari, siapa yang perlu disalahin?

Ilustrasi di atas tidak berhubungan sih dengan tema ini hehe, namun menunjukan bagaimana interaksi dengan orang lain merupakan suatu hal yang mudah dilakukan di era ini. Buah dari kemudahan dalam berinteraksi bisa dikatakan kebutuhan, atau ambisi, untuk diakui oleh orang lain cukup meningkat. Alasannya untuk mendulang popularitas dan meningkatkan self-esteem (harga diri).

Baca juga: Mencari Identitas dalam Kelompok, Malah Hilang Identitas Diri Sendiri – Identitas Sosial dalam Psikologi

Implikasi dari harapan tersebut bisa dilihat dari fenomena saat ini, kecenderungan orang menginginkan jumlah followers atau pemirsa yang banyak ketimbang ilmu yang banyak hehe (hanya pandangan penulis). Yang pada akhirnya membaiat diri sebagai seorang influencer. Bukan rahasia umum, influencer memang dipandang orang yang dituntut untuk sempurna, tanpa kesalahan atau kegagalan. Bayang-bayang kehidupan idealis sering disematkan untuk mereka, dan memang mereka menikmati itu untuk meningkatkan self-esteem nya.

self-serving bias, apa itu self-serving bias, self-serving bias dalam psikologi, mengatasi self-serving bias
Bumi Psikologi – Self Serving Bias. Sumber: Pixabay.com

Akan tetapi suatu ketika, misalnya, seorang influencer, da’i atau apapun itu menulis suatu postingan mengenai suatu topik yang di luar ketahuannya atau bidangnya. Kemudian dikoreksi oleh seseorang yang antah berantah dengan cukup pedas tapi benar. Influencer tersebut akan mencari kambing hitam atau menyalahkan pengoreksi tersebut. Ini bertujuan menutupi self-esteem yang telah dibangunnya dan menutupi emosi (malu) yang tidak bisa diatasi. Atau senjata klasik untuk menutupinya dengan memblokir orang tersebut.

Fenomena ini bisa dikatakan sebagai self-serving bias atau bias menilai diri sendiri lebih favorable dalam kesuksesan diri, tetapi menilai kegagalan atau ketidaknyamanan merupakan faktor eksternal. Misalnya gini, ketika seseorang gagal dalam suatu tes, misalnya CPNS atau ujian lain. Orang tersebut bakal menyalahkan mungkin panitianya yang tidak becus, ruangan yang tidak kondusif, atau adanya kecurangan dan transparansi tes yang kurang dsb. Akan tetapi ketika sukses atau lulus akan menilai itu dikarenakan memang karena usahanya atau kemampuannya yang baik.

Baca juga: Kenapa Orang Suka Menyukai Informasi yang Sesuai Pendapatnya Saja – Penjelasan Bias Konfirmasi dalam Psikologi

Biasanya fenomena ini rentan terjadi pada orang yang dinisbatkan atau dinilai oleh orang lain sebagai orang pintar, keren atau sematan atribut positif lainnya. Namun ketika dalam perjalanannya menemukan kontradiksi dengan sematan yang diberikan, orang tersebut biasanya berdalih kesalahannya merupakan pengaruh faktor eksternal yang mengakibatkan dirinya bisa gagal atau salah.

Sebagai contoh, ketika seorang siswa dinilai memiliki kemampuan yang baik, pintar, oleh sebayanya, secara sadar atau tidak siswa tersebut memiliki self-esteem yang harus dipertahankan dengan cara memenuhi sematan atribut yang dinilai orang terhadap dirinya itu. Tapi ketika misalnya selesai ulangan dirinya mendapatkan skor rendah atau tidak sesuai dengan sematan atribut untuk dirinya. Kemungkinan menyalahkan faktor eksternal akan cukup tinggi. Seperti lingkungan yang tidak mendukung, guru yang tidak adil dsb.

Begitupun dengan para influencer atau orang yang dinilai idealis cenderung lebih rentan terkena self-serving bias. Oh iya, contoh paling gamblang ya lihat saja para wakil rakyat (ga tau wakilin siapa) yang ketika ditunjukan ketidakbecusan atau tidak kompetennya diri lebih suka berdalih dan menyalahkan lawan politiknya daripada nyadar diri. Mereka menjaga imej, daripada mengakui inkompetennya diri, hiyahiya!

Baca juga: Konflik Antar Kelompok dalam Dunia Netizen – In-Group Favoritism Bias dalam Psikologi

Biasanya, ketika orang tersebut mendapatkan kegagalan, kecenderungan untuk stres yang berujung pada depresi itu lebih mungkin terjadi. Contohnya bisa dilihat dari mereka yang berprofesi sebagai penghibur atau artis.

Self-serving bias ini sangat perlu dihindari, karena kecenderungan orang tersebut untuk belajar dari kesalahan akan lebih sedikit mungkin terjadi. Dan kita tidak akan belajar memperbaiki diri karena hal tersebut. Ini disebabkan karena lebih melindungi harga diri, narsistik dan popularitasnya.

Untuk mengatasi self-serving bias ini, memang lebih kepada konstruksi diri seperti menyadari bahwa setiap orang memiliki kesalahan. Itu memang sebuah kewajaran bukan suatu hal yang memalukan. Selain itu, kamu bisa memperhatikan diri sendiri kapan menyalahkan diri sendiri, dan bisa mengeremnya dengan bertanya kenapa melakukan itu.

Menerima kesalahan dan kegagalan diri kemudian mempelajari kenapa bisa mendapatkan hal itu. Serta mencoba untuk memperbaiki diri dengan belajar dari kesalahan itu, bukan mencari kambing hitam di luar diri. Karena setiap orang pasti memiliki kesalahan, namun mereka yang memahami kesalahann dan mempelajarinya lagi yang akan menjadi lebih baik.

Penutup

Oke untuk artikel self-serving bias cukup sampai di sini saja. Bagi kamu yang suka nyalahin orang lain atau faktor luar diri bisa baca dan merefleksikannya. Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada orang lain ya, supaya mereka juga bisa mendapatkan apa yang kamu dapatkan dari sini. Terima kasih.

Bagi kamu yang memilki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini, dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: admin@bumipsikologi.com

Kata kunci: self-serving bias, apa itu self-serving bias, self-serving bias dalam psikologi, mengatasi self-serving bias